Quote

Poem

7/19/2012 08:55:00 PM Oktiara dwindah 0 Comments

Waktu itu terbang disaat kamu mulai bertanya: Aku siapa bagi dirimu. Jangan tanya. Perhatikan. Di dunia hati yang dipenuhi kebisuan kata & penuhnya kata yang terbungkam bibir, membuat kata itu terkunci malu. Menaksir itu pilihan mata, menaruh rasa itu pilihan atas kesabaran waktu. Mencari bayang bayang rindumu dibatas rindu. Saat pertama yang ingin kupotret di hati, lalu tidur, karena kamu berjanji temui aku disana. Andai setiap malam aku bisa memilih. Terlelap tidur tanpa cerita atau bermimpi tentang isi dua hati. Ini pagi, dan kita tak peduli. Ini hari, dan kita cuek lalui. Semua halusinasi. Yang berarti hanya kamu dihati. Dalam sabar, satu rasa tercipta. Senyum disambut senyum, tulus disambut tulus. Pegang tanganku terus, temani aku menerus. 

Hidup itu tentang orang orang yang kita temui & yang kita hasilkan dengan mereka. Dari karya hingga cinta. Jangan mengumpulkan hati yang pecah berkeping. Pecahannya telah dimakan debu. Berikan saja yang baru, agar utuh. Tidak ada yang suka bersendiri. Itu natur kita. Jangan katakan aku bahagia sendiri. Peluk eratlah kasih sayang ada. Kadang, satu-satunya hal yang perlu aku lakukan ialah untuk dekat & terus mendekat, dia. Agar lalu tersenyum. Tanpa disadari, malaikat ini sabar menemani. Menata hati yg runtuh. Kuterenyuh, menyeluruh. Emosi itu seperti seni, melukis puas segala rasa. Satu kanvas, sejuta ekspresi. Satu arti. Jarum jam berjalan terus yah, tapi kita tetap berdiam. Aku suka

Lucu itu kamu. Senyum itu aku. Malu malu itu kita

Pakai hati itu hati hati yah, biar tidak salah dan selamanya sehidup semati. 
Kangen itu mulai-nya dari pas kamu bilang: I'll see u soon ya

Banyak yg ingin 'berdiam' di pandangan pertama. Padahal semua berakhir di kedip mata berikutnya Menaksir indah wajahnya, berkenalan dengan hatinya. Lalu, barulah cinta, seluruhnya dia. Memeluk hari di setiap pagi. Karena hidup begitu berarti. Cinta terus mencari sejati. Cinta yang benar itu adalah yang menjaga ketika datang & tersenyum ikhlas ketika harus pergi. Susah sekali mencarimu, padahal sudah kucari teliti dibalik detik-detik yang berlalu.

Jika puisi dari langit ialah pepohonan. Maka di bumi kujadikan kertas, lalu kutumpahkan kata. Agar terasa. Mungkin cinta, mungkin bisa. Tapi kamu tak akan binasa di rasa. Jika tidak, maka aku tiada
Kita hidup sekali & sebentar. Jangan tahan kata cinta, ucapkan sesering mungkin kepada dia yg berhak memilikinya. Menjadi dua lalu berpisah itu mudah. Menjadi satu & terus menyatu itu yang susah. Iya kita menangis & tertawa, namun selama diantara itu terselip kata bersama. Aku bahagia. Didalam benak ia pasti sejenak menyapa. Memang rasa itu begitu. Berjalan di lorong gelap kehidupan itu seperti meraba malam tanpa membawa jam. Jalan saja, matahari pasti menyapa. Disaat dua dunia tdk bisa disatukan, maka lebih baik aku pergi ke dunia ketiga. Toh dunia tak berbatas.

Mencari kening agar bisa kukecup. Mencari tubuh agar bisa kupeluk. Mencari hati agar bisa kubagi. Itukah kamu?



                                                                                  Banyu Biru

You Might Also Like

0 komentar: